KONSTELASI PERUBAHAN
Keluarga sering menjadi pilihan pertama sebagai objek yang layak dibahagiakan dalam hidup kita, meski kadang dikalahkan oleh datangnya wujud lain yang membuat kita terobsesi. Hal-hal yang erat kaitannya dengan keluarga menurut penilaian masyarakat, adalah hasil dari sebuah jalinan kekeluargaan tersebut, maka muncul istilah "bibit, bobot, bebet", namun terdengar pudar di era sekarang dengan kekuatan "everybody have a change".
Ya, "setiap orang memiliki perubahan" adalah sebuah magical words. Aku sering menggunakannya, mungkin kita adalah pengguna setianya. Coba kita ingat dan syukuri adanya, bahwa kalimat itu menyelamatkan beberapa peristiwa dalam hidup kita, misalnya ketika kita berdebat dengan seseorang yang terus-menerus menyalahkan diri kita hingga pada akhirnya kita berkomitmen untuk hal yang lebih baik kemudian mengucapkan kalimat tersebut sebagai closing statement, atau saat kita putus asa dengan kehidupan kita yang "young, dumb and broke" ada seseorang datang menasehati kita dengan kalimat itu, tentu menjadi sebuah output dan input positif untuk psikologis kita.
Beberapa hari tinggal di kampung halaman yang sudah lama aku tinggalkan, aku melihat banyak yang berubah di desa ini. Perubahan jalan, lingkungan, pun setiap sudutnya berubah. Juga berita televisi yang seharian dipenuhi oleh berita banjir di wilayah DKI Jakarta , itu juga perubahan. Ketika kita meluaskan kata "everybody" dari kalimat "everybody have a change", hal itu diberlakukan juga untuk everywhere, everytime, everythings, etc. Paradoksnya semua di dunia ini akan berubah, ada yang menyukai perubahan, dan ada yang tidak menyukai perubahan. Manusia selalu punya alasan untuk memisahkan satu kekuatan menjadi dua kutub; yakni negatif dan positif. Kadang perubahan positif bagi sebagian orang dianggap sebagai perubahan negatif, begitupun sebaliknya.
Minggu lalu, sebelum sampai di rumah aku menemukan buku berjudul "Disruption" yang ditulis oleh Rhenald Kasali, buku itu kubeli di bazar buku Gramedia, Solo, bersama tiga buku lainnya. Aku baru mulai membacanya kemarin. Aku tertarik pada buku ini karena stiker Mega Best Seller-nya, hanya penasaran saja. Buku yang berjudul Disruption ini memiliki tagline pada covernya yang berbunyi "Tak Ada yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi, Motivasi Saja Tidak Cukup". Buku ini cukup tebal, dan aku berharap dapat membuat resensinya ketika selesai membaca. Sekarang, aku baru sampai pada bagian pertama buku ini, sebagian besar isinya juga berbicara soal perubahan, perbandingan peradaban masa lalu dan masa kini juga munculnya pion-pion baru dalam permainan catur sebuah bisnis atau perebutan kekuatan, kekuasaan, dan posisi terdepan, tercepat, serta unggul.
Manusia modern seharusnya memahami klise "everybody have a change" ini. Semua orang bergerak dan membuat perubahan, walau merasa berjalan di tempat, nyatanya kita semua berubah, entah berada dalam sudut pandang perubahan orang lain, lingkungan, tempat, dll. Kita juga menikmati produk-produk perubahan, bisa berupa kekecewaan atau kepuasan, sakit hati atau jatuh hati, duka ata kebahagiaan, nyaman atau tidak nyaman, dan dua kutub berbeda lainnya. Itulah takdir kita sebagai sumber perubahan.
Perubahan yang instan tidak menghasilkan sesuatu yang baik, karena meminum air matang berbeda dengan meminum air mentah. Untuk perubahan-perubahan yang terjadi dari titik terkecil manusia , semoga menjadi petualangan hidup yang mendewasakan antar sesama.
Bravo!
Komentar
Posting Komentar