Ceriteranya, di Padepokan Negeri Semarang (seperti judul buku milik teman yang baru rilis) beberapa mahasiswa dengan sangat giat mencari dosennya dan bersikeras untuk menjalin hubungan yang baik agar mendapatkan nilai bagus atau motivasi tertentu, sebagian lagi berjalan dengan apa adanya, bersantai namun tetap bertanggunjawab dengan tugas-tugasnya, sebagian yang lebih minoritas lagi ada mahasiswa yang sering absen sampai tidak pernah masuk kuliah, karena jera dengan perlakukan menyudutkan atau pelajaran atau hal-hal lain (gono-gini) yang membuatnya menjadi semakin takut ketika harus berangkat mengikuti perkuliahan. Mungkin, bagi mayoritas akademisi hal ini bukan suatu masalah, dan mereka menyebutnya sebagai cambukkan bagi mahasiswa untuk maju dan berkembang. Tanpa memikirkan latar belakang atau kekuatan mental setiap orang yang berbeda-beda. Ketika saya mencoba memposisikan diri sebagai dosen yang tanpa disadari membuat mahasiswanya jera, saya juga tidak bisa berbuat banyak, toh yan...
Gambaran strereotip mengenai jenius kreatif yang mengonsumsi narkoba, mabuk dan berganti-ganti pasangan itu sudah basi. itu hanya untuk orang-orang yang ingin mati muda. Intinya: menjadi kreatif butuh banyak energi. Kamu takkan punya energi itu jika dihabiskan dengan hal lain. Saya sudah mulai tertarik dan mengenal seni sejak belasan tahun yang lalu, ketika saya kelas IV SD, entah mengapa waktu itu mendengar kata seni saja sudah membuat tertarik untuk menyimak atau menjalani lebih lanjut, seni pertama yang saya coba waktu itu adalah seni tari, memang ada ekstra kulikuler Seni Tari di sekolah, saya sempat mengikuti beberapa kali sebelum guru seni tari pindah, beliau mengatakan bahwa saya berbakat (itu adalah hal bahagia) dan berpesan pada saya agar mengikuti les atau kursus tari di tempatnya dengan registrasi Rp. 20.000,-. Keluarga serba kekurangan, apalagi waktu itu orang tua harus membiayai biaya sekolah dua saudaraku yang duduk di SMA dan SMP, tentu saya tidak berani meminta sejuml...
"Tinggal di Indonesia adalah sebuah takdir, aku tidak bisa memilih tubuhku akan dilahirkan dimana, namun aku bisa memilih jiwaku akan pergi kemana." Aku ingin mengajakmu untuk tidak memikirkan kepergian itu selalu menuju ke suatu tempat, tapi ubahlah pergi menjadi kepergian jiwa satu ke jiwa yang lain. Setelah itu, jika kita pergi dan memikirkan jiwa, maka yang tumbuh dalam pikiran kita adalah sebuah penilaian terhadap diri sendiri (self reminder) ; bagaimana kehidupan kita, pola pikir kita, seberapa banyak kesalahan yang pernah kita perbuat, dan beberapa waktu kemudian akan muncul injeksi abstrak tentang penebusan jiwa yang salah tersebut. Bukan baru-baru ini Indonesia mengalami banyak musibah. Media massa memanfaatkan responden yang di era sekarang lebih aktif, ganas, rakus, bahkan radikal, untuk menaikkan potensinya sebagai penyampai berita hangat, terkini, dan terpopuler. Orang-orang jaman dulu menerima berita tidak secepat dan sepraktis sekarang, bahkan "kaum n...
Komentar
Posting Komentar